Thursday, 3 April 2014

Dia dan Jiwaku

Setiap hari merindu, merindu keluh kesah di hati yang rapuh
Merindu setiap nada pujian, setiap nada wejangan
Merindu setiap tangis dan sandaran luka yang mungkin hanya bisa dibasuh oleh rasa
Merindu sempatkan waktu untuk makan bersama, untuk sisahkan setiap waktu untuk berdoa pada sang kuasa
Padanya yang memberikan setiap nafas dan dirimu, kuucap Terima Kasih Tuhan
Terima Kasih untuknya yang selalu ada menemani hariku
Untuknya yang selalu mendengar ocehanku
Untuknya yang tak pernah luput menyebut namaku dalam doanya
Untuk setiap tenaga dan kasih sayangnya yang sekarang tak dapat kubalas
Untuk setiap cita-cita yang belum sempat ku buktikan
Aku merindunya, Tuhan.
Mungkin nanti. Kupastikan semua bangga.
Kupastikan semua tak sia-sia
Aku menyesal. Jelas.
Ketika saat itu aku tak bisa berada di sampingnya untuk terakhir kali.
Ketika hanya pelukan tangan-tangan rapuh yang kurasakan
dan ketika nada terbata yang keluar dari bibirnya
ketika sentuhan hangan tangan kerutnya menyalurkan beribu bahkan berjuta kasih sayang yang kurindukan
Namun jujur, hanya dia. Dia yang menyatu dalam ragaku. 
Menyatu menjadi bagian jiwa, yang melebur bersama darah
Ku merindunya, Tuhan. Benar-benar merindunya.
















| Semua membutuhkan rumah untuk tempatnya berteduh, berbagi, dan meleburkan setiap keluh dan amarah. Ini untukmu Oma. Aku rindu.



Salam sayang,
Cucumu 



No comments:

Post a Comment